PEPC – Ademos Launching Program Batik

1
96

Oleh: M. Fatoni

kilasBojonegoro.com – Program kemitraan antara Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) dengan PT. Pertamina EP Cepu (PEPC) resmi ditandai dengan soft launching, Selasa (06/12/2016).

Bertempat di Balai Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, kegiatan itu dihadiri oleh Pembina Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro, Mahfudloh Suyoto.

Juga, Kepala Bidang Kreasi Logam Aneka Industri Hasil Kerajinan (KLAI) Kerajinan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Peni Budi PH, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Amir Syahid, Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos), Adjie Witjaksono.

Selain itu, Kasi Kesra Tambakrejo, M. Maskur, Sekcam Purwosari sekaligus penangjung jawab sementara Kepala Desa Pelem, Budi Sukisna, Kepala Desa Dolokgede, Nunuk Sri Rahayu, para Perangkat Desa penerima manfaat program, tokoh masyarakat, Public Government Affairs (PGA) PT. Pertamina EP Cepu (PEPC), pegiat Ademos Indonesia dan para perajin batik binaan.

Bersamaan dengan soft launching, juga dilaksanakan pameran batik karya perajin binaan Ademos dan PEPC dari kelima desa tersebut.

Public Government Affairs (PGA) Superintendent PT. Pertamina EP Cepu (PEPC), Edi Purnomo menyampaikan, program peningkatan kompetensi perajin batik ini akan difokuskan di lima desa terdampak Proyek Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (J-TB), yaitu Desa Dolokgede dan Desa Kalisumber Kecamatan Tambakrejo, Desa Kaliombo dan Desa Pelem Kecamatan Purwosari, serta Desa Bandungrejo Kecamatan Ngasem.

“Prioritas kami ada di lima desa itu,” ujarnya.

Edi sapaan akrabnya menambahkan, saat ini ada lima orang dari tiap desa sasaran program menjadi benefit series program. Dia berharap, kelima orang tersebut bisa menularkan ilmu membatiknya kepada warga yang lain serta mengembangkannya agar produk batik lokal setempat populer.

“Kami akan terus mengawal program ini. Mudah-mudahan program batik ini terus berkesinambungan dan menjadi ikon tiap-tiap desa masing-masing,” harap mantan Jurnalis media cetak Nasional tersebut.

Di kesempatan yang sama, Ketua Ademos, Moh. Kundori menjelaskan, program tersebut sudah dimulai dari November 2016 lalu hingga dua bulan mendatang. Ada berbagai hal dalam pelaksanaannya, mulai sosialisasi rogram, diklat membatik pewarna alam, diklat manajemen kelompok usaha batik (KUB) dan diklat penguatan Jaringan pemasaran.

“Perajin batik nanti juga akan melakukan study banding industri batik, agar mereka dapat belajar lebih luas lagi dan mendapatkan visualisasi inspirasi usaha batik yang telah maju dan berkembang,” imbuhnya.

Sementara itu, Mahfudloh Suyoto mengaku sangat mendukung program tersebut. Terkait promosi, kata dia, pemerintahan desa bisa membantu memasarkan ke sekolah-sekolah sebagai upaya pengembangan usaha mandiri.

“Bisa saja, kepala kesa membatu memasarkan ke sekolah-sekolah yang ada di desanya masing-masing dan sekitarnya,” katanya.

Bu Yoto juga menjelaskan awal mula merintis batik jonegoroan. Diawali dengan 9 motif, kemudian diadakan lomba desain motif batik dan menghasilkan 5 motif baru sehingga batik jonegoroan memiliki 14 motif sebagaimana sekarang ini.

Bu Yoto juta memotivasi para perajin agar jangan pernah berhenti untuk berinovasi.

“Jangan berhenti berinovasi, siapa tahu ke depan motif batik jonegoroan bisa berkembang lagi,” ujarnya memotivasi. (gus/roz)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here