Jaswadi dan Kisahnya Menggapai Sarjana

0
117
Jaswadi dan Kisahnya Menggapai Sarjana

Oleh: Achmad Abidin

kilasBojonegoro.com – Sosok pria satu ini mungkin tidak asing lagi bagi mereka yang tinggal di Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro. Ya, dia adalah Jaswadi.

Pria humanis gemar berorganisasi ini aktif di bidang hukum dan hak asasi manusia Karang Taruna Kecamatan Gayam.

Selain itu, pria kelahiran Bojonegoro, 7 Oktober 1987 itu menggeluti usaha di bidang penyediaan barang dan jasa di ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Ini menjadi rutinitas harian pria alumnus Fakultas Hukum Universitas Bung Karno Jakarta tersebut.

Di sela rutinitasnya itu, Jaswadi sering menjadi pembicara di setiap acara berkaitan dengan hukum dan hak asasi manusia sesuai jurusan yang ditekuninya.

Dari sekelumit kisah hidupnya itu, dia saat ini menjadi sosok inspirasi bagi sahabat-sahabatnya. Karena banyak teman sepantarannya tidak mengira seorang Jaswadi yang dulu sempat merantau di Jakarta menjadi satuan pengamanan (Satpam), sepulang dari rantau meraih gelar sarjana hukum.

Bercerita mengenai pengalamannya merantau di Ibu Kota membuat bulu kuduk merinding, Jaswadi ternyata berulang kali gagal mencalonkan diri menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

“Polisi gagal dua kali, TNI gagal dua kali. Saya juga pernah gagal nyalon Kepala Dusun Ngraho,” kenangnya.

Setelah itu, persisnya di pertengahan 2010, putra pertama dari dua bersaudara pasangan almarhum Sarimun dan Siti Aminah itu memberanikan diri merantau ke Jakarta.

“Dengan perasaan kecewa dan malu dengan orang tua karena berulang kali gagal, saya berangkat merantau ke Jakarta,” ujar Jaswadi berkisah.

Dirinya mengaku, keberangkatannya merantau hanya berbekal dua baju, satu celana, dan uang Rp 120 ribu.
Kala itu, dia menolak uang saku dari orang tuanya, dengan alasan tidak ingin membuat orang tuanya susah.

Karena tanpa tujuan jelas, sesampai di Stasiun Pasar Senen Jakarta, dia tiduran di stasiun. Berselang 5 jam, Jaswadi menemui seseorang yang tidak dikenalnya.

“Setelah ngobrol panjang, saya diajak kerja di Pantai Indah Kapuk Jakarta sebagai kuli bangunan,” ceritanya.
         
Setelah dua bulan bekerja dan punya sedikit uang, Mantan Ketua Karang Taruna Desa Ngraho Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro itu menjajal keliling Ibu Kota untuk mencari kampus. Mulai Universitas 17 Agustus, Tri Sakti, hingga Universitas Indonesia.

“Tapi, tidak tahu kenapa, saat naik kereta, saya melihat kampus besar berlogo Bung Karno (Mantan Presiden RI pertama). Seketika itu saya turun. Tanpa berfikir panjang, saya langsung daftar di jurusan hukum dan diterima. Mungkin karena saya adalah salah satu pengagum beliau (Bung Karno),” katanya.

Dua bulan menimba ilmu hukum di Universitas Bung Karno (UBK), dia kebingungan mencari kerja lagi untuk biaya hidup dan kuliah. Sebab, proyek di pantai indah kapuk sudah selesai.

“Setelah beberapa hari ke sana sini, karena tidak ada lowongan kerja, saya akhirnya ikut nguli lagi di Tanjung Priok. Lumayan bisa buat beli makan, kos, dan kuliah,” tuturnya tersenyum.

Seiring berjalannya waktu, Jaswadi mendapat informasi dari seseorang kalau ada lowongan kerja sekuriti di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Dia akhirnya memutuskan berhenti menjadi kuli bangunan dan mencoba melamar.

“Alhamdulillah, saya lolos tes dan diterima,” ucapnya.

Dengan telaten, dirinya menekuni pekerjaan tersebut. Karena beban hidup di kota cukup besar. Jaswadi mencari kerja sampingan sebagai tukang cuci piring di salah satu warung pecel lele hingga lulus kuliah pada 2011.

“Sewaktu pulang kuliah dan tidak berjaga, saya nyambi jadi tukang cuci piring di warung pecel lele,” ungkap pria yang pernah aktif di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) 123 Jakarta tersebut.

Jaswadi mengaku senang dan bangga bisa meraih gelar Sarjana Hukum (SH) di UBK Jakarta. Dirinya berkeyakinan, di mana ada kemauan pasti ada jalan. (abd/gus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here