EMCL: Keterlibatan LSM Lokal Menjadi Prioritas

0
126
Foto: LSM Tropis Indonesia bersama Karang Taruna Desa Brabuhan Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro di Agrowisata

Reporter: Muhamad Fatoni

kilasbojonegoro.com – Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sudah banyak berubah dibanding 10 tahun yang lalu. Perubahan secara kasat mata bisa dilihat dari pembangunan infrastruktur. Baik sektor pendidikan, kesehatan, maupun fasilitas umum lainnya seperti jalan, jembatan, balai desa, dan lain-lain.

Itulah yang dirasakan Camat Gayam, Akhmad Yusuf. Menurut dia, perubahan ini tidak akan terasa berbeda bagi orang yang setiap hari berada di dalamnya. Namun dirinya yakin, masyarakat Kecamatan Gayam pun sependapat dengannya.

“Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kemajuan yang sudah ada ini patut disyukuri, dengan kesyukuran itu diharapkan muncul kerukunan,” tuturnya saat Musyawarah Desa Program Pengembangan Agrowisata di Desa Brabowan, Kecamatan Gayam pada Selasa (13/3/2018).

Camat berpesan agar setiap persoalan diselesaikan dengan musyawarah dan dialog untuk mencari solusi. Agar berkemajuan, kata dia, masyarakat dan Pemerintah harus kreatif serta produktif.

“Kegiatan seperti ini sangat kreatif, menjadikan Desa Brabowan sebagai destinasi wisata agro,” ungkapnya.

Mantan Camat Sekar ini juga mengapresiasi kolaborasi antara pemuda, Pemerintah Desa, dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dalam mewujudkan agrowisata tersebut. Sebagai tetangga dekat Lapangan Banyu Urip, Desa Brabowan mampu menunjukkan kemandiriannya.

“Saya juga mengapresiasi LSM lokal yang mau berpikir maju seperti Tropis Indonesia ini,” imbuhnya.

Sejurus dengan itu, Camat juga melihat banyak LSM lokal yang telah maju seiring perkembangan industri migas di Bojonegoro. Sebuah fenomena yang dinilai baik olehnya.

Menanggapi pendapat tersebut, Juru Bicara EMCL, Rexy Mawardijaya mengatakan bahwa keterlibatan LSM lokal menjadi prioritas EMCL. Secara transparan dan akuntabel, pihaknya menggandeng mitra dalam menjalankan program-program pendukung operasi di sekitar Lapangan Banyu Urip.

“Setiap program yang kita laksanakan selalu kita mulai dan kita akhiri dengan musyawarah desa seperti hari ini. Tujuannya agar transparan, bisa diawasi oleh semua pihak, dan membuka keterlibatan warga dalam setiap kegiatan,” jelasnya.

Pada beberapa program Pengembangan infrastruktur, EMCL melalui mitra program bersama pihak desa membentuk Tim Pelaksana Kegiatan (Timlak). Timlak yang beranggotakan perwakilan masyarakat ini secara transparan mengelola anggaran program dan melaporkannya ke masyarakat di akhir kegiatan.

“Kita mendesain program agar bisa memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat. Baik itu manfaat bantuannya itu sendiri, maupun pengalaman dan kerjasama antar semua pihak,” katanya.

Rexy juga menyampaikan bahwa EMCL telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong berkembangnya mitra lokal. Berbagai pelatihan mulai dari manajemen organisasi, pelatihan keuangan, manajemen komunikasi, pemetaan sosial hingga peningkatan keahlian personel LSM.

“Setidaknya kita sudah melaksanakan 8 kali pelatihan sejak 2014 lalu,” cetusnya.

Mengacu pada data 2014 itu, hingga tahun ini, setidaknya 25 LSM lokal Bojonegoro telah menangani lebih dari 115 program. Sekian banyak program itu berfokus pada pilar pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi. (red/oni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here